Senin, 22 Februari 2010

Perang Tapanuli 1878-1907

Di wilayah Tapanuli terdapat beberapa kerajaan suku Batak salah satunya berpusat di Bakkara. Raja terakhir di Bakkara ialah Sisingamangaraja XII.
Apa sebab terjadi perang Tapanuli? Sebab-sebab terjadinya peperangan adalah:
- Raja Sisingamangaraja tidak senang daerah kekuasaannya dikuasai Belanda yaitu Tapanuli Selatan.
- Untuk mewujudkan Pax Netherlandica, Belanda berniat menguasai Tapanuli Utara pada saat yang sama Belanda juga melancarkan peperangan di Aceh.

Perang dimulai ketika Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung, untuk melindungi penyebaran agama kristen yang dilakukan oleh Nommensen yang berkebangsaan Jerman. Sisingamangaraja XII menyerang kedudukan Belanda di Tarutung. Selama 7 tahun terjadi peperangan di Tapanuli Utara yaitu di daerah Bahal Batu, Soborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu.

Bagaimana tindakan Belanda menghadapi perlawanan rakyat Tapanuli? Pada tahun 1894 pasukan Belanda dikerahkan untuk merebut Bakkara sebagai pusat kekusaan Sisingamangaraja XII. Akibat penyerangan terebut Sisingamangaraja pindah ke Dairi Pakpak.

Pada tahun 1904 pasukan Belanda pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara dan berhasil mendesak pertahanan Sisingamangaraja XII. Pada tahun1907 pasukan marsose dipimpin oleh Kapten Hans Christoffel berhasil menangkap Boru Sagala, isteri Sisingamangaraja XII serta dua orang anaknya, sementara itu ia dan para pengikutnya menyelamatkan diri ke hutan Simsim. Bujukan agar raja mau menyerah ditolaknya. Akhirnya dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907 Sisingamangaraja XII gugur juga Lopian puterinya dan dua orang puteranya yaitu Sutan nagari dan Patuan Anggi. Jenasahnya dimakamkan di depan markas militer Belanda di Tarutung lalu dipindahkan ke Balige. Gugurnya Sisingamangaraja XII telah menambah deretan pahlawan perjuangan kemerdekaan. Perang Tapanuli adalah perang terakhir menghadapi Belanda dengan senjata. Setahun kemudian perlawanan bangsa Indonesia ditandai dengan munculnya pergerakan nasional melalui lahirnya Budi Utomo yang dapat Anda pelajari pada kegiatan belajar 3 di kelas II ini.

Sumber:http://www.e-dukasi.net/mol/mo_full.php?moid=104&fname=sej201_24.htm

2 komentar:

Usman Effendy Rambe mengatakan...

Dalam perlawanan masyarakat Batak terhadap penjajahan Kolonial Hindia Belanda, Raja Si Singamangaraja XII didukung kelompok yang sangat fanatik yaitu; (1). Parmalim yang berpusat di Balige, dan (2). Sigudamdam yang berpusat di Pakkat - Parlilitan (yang kemudian menjadi Humbang Barat setelah Raja Si sSingamangaraja XII wafat, tewas tertembak oleh serdadu Belanda bernama Hamisi).

Hal ini dapat dilihat dimana militer Belanda yang bermarkas di Benteng Barus tidak mampu menembus daerah Pakkat (dulu berpusat di Tukka) untuk menyerang pasukan Raja Si Singamangaraja XII padahal jaraknya hanya kurang lebih 12 km.

Dalam hal inilah tentara Belanda didrop dan ditempatkan di Tukka. Dengan penempatan inilah sehingga di Tukka ada pasenggrahan.

Akibat dari fanatiknya masyarakat Pakkat/Tukka ini sehingga Kolonial Hindia Belanda membuat strategis;
1. 1905, menugaskan missionaris Pendeta Theis dan didampingi oleh beberapa bermarga Purba, Manalu, Debataraja ke Negeri Rambe untuk memasukkan paham-paham eropanian dengan berlindung dalam tugas tugas mission tersebut.

Waktu inilah dimulai pergantian marga marga "Rambe" menjadi persis seperti marga marga para asisten Pendeta Theis tersebut dengan Purba, Manalu, Debataraja.

2-a). 1917. Menempatkan Guru Pilipus Simamora menjadi pengajar (guru - red) di Tukka.

Kemudian dari sini pindah ke Desa Sihorbo Tanjung, karena desa tersebut diidentikkan sebagai milik Rambe Rajanalu yang telah menjadi Manalu, diapun mintak pindah ke Sijarango yang Rambe Anakraja menjadi Debataraja.

b). 1919. Kemudian datang menyusul Meman Simamora. Tidak berapa lama datang pengumuman dari Kontelir Siborong-borong untuk membentuk "Kepala Kampung" (Kepala Desa - red, dianya ini mendaftarkan diri.



Dia ini mengaku-ngaku Keturunan Tuan Sumerham, dan dalam proses pemilihan Kepala Kampung tersebut memakai taktik "main uang" (money politik, dan kemudian diapun unggul yang disebut dengan; "Monang Petek" (menang karena uang).

c). 1936. Kontelir Siborong-borong kemudian menempatkan Simeon Simamora di Pakkat sebagai "Asisten Demang."

Mereka bertiga ini kemudian memakai istilah yang dulunya disebut Rambe Anakraja, kemudian menjadi "Debataraja" dan oleh karena mereka bertiga (tiga serangkai) ini memakai marga "Simamora," kemudian istilah tersebut diterapkan pada Rambe Anakraja yang kemudian menjadi "Debataraja" tadi kemudian (sebagian) menjadi "Simamora" seperti halnya mereka pakai di Dolok Sanggul.

Kesemua terapan ini adalah untuk menjauhkan sebutan "Rambe" dari pengaruh "Sigudamdam.* Dan atas dasar inilah sehingga di Kec. Pakkat yang disebut "Negeri Rambe" tidak ada lagi memakai marga "Rambe" padahal daerah tersebut (Negeri Rambe) adalah "Daerah Leluhur Marga Rambe." Hanya saja sebutan (marga) "Rambe)tersebut hanya dipakai oleh Keturunan Tuan Sumerham yang telah merantau "Jauh sebelum Kemerdekaan 17 Agustus 1945).

Usman Effendy Rambe mengatakan...

sambungan:
Persoalan tanpa sebutan "Rambe" ini di Kec. Pakkat sehingga hanya dengan alasan "Nama Baptis" sehingga hanya dengan; "Purba, Manalu, Debataraja dan atau Simamora" memberi kesan seakan-akan;
1. Rambe Purba, yang telah berganti nama menjadi "Purba" seakan-akan mereka berasal dari Toga Purba.
2. Rambe Rajanalu, yang telah berganti nama menjadi "Manalu" seakan-akan mereka berasal dari Toga Manalu.
3. Rambe Anakraja, yang telah berganti nama menjadi Debataraja atau Simamora seakan-akan mereka berasal dari Toga Debataraja.

Dan dengan terbitnya buku "Pustaha Batak" (1926) yang diterjemahkan oleh Waldemar M. Hutagalung dari buku "Tobabataks Worterboek" (1903) berbahasa Belanda ke berbahasa dan aksara Batak, dimana dikatakan bahwasanya "Boru Lontung" diberi kesan seakan-akan ada dua dan mengatakan bahwa Sihombing sebagai anak sulung serta Simamora sebagai anak bungsu membuat Keturunan Tuan Sumerham mendesak agar diadakan "Rapat Marga_ di Dolok Sanggul (1929) dan dilanjut di Kantor Hooqvlakte van Toba Siborong-borong (1936). Dalam "Rapat Marga" Toga Simamora ini telah jelas tentang Sejarah dan Asal-usul Tuan Sumerham dan marga Rambe. Namun hal itu "Tidak dihormati maksimal," dimana hingga memunculkan persepsi "9" (sembilan)Versi dari Toga Purba, Toga Manalu, dan Toga Debataraja terhadap status posisi Tuan Sumerham dan marga Rambe.

Hal ini dimana jika Keturunan Tuan Sumerham (marga Rambe) mau dijadikan sebagai "Anak Bungsu" (Sianggian - red) maka sebagian mereka mengakui bahwa "Toga Simamora" terdiri dari "4" (Empat) Bersaudara dari "2" (Dua) Istri si "Simamora" sbb'
1. Purba.
2. Manalu.
3. Debataraja. dan,
4. Rambe.

Hal ini terlihat jelas dalam skema situs blog google "Toga Simamora; Purba, Manalu, Debataraja, Rambe" yang dibuat oleh Bernande Manalu - dari Kalimantan.

Menggapi hal itu, "Kami Keturunan Tuan Sumerham bermarga Rambe" bukan merebut status anak-sulung "Sihahaan" tersebut namun; "Mengacu pada duduknya sejarah sesungguhnya." Namun dalam hal tersebut; "TERNYATA MEREKA TIDAK MAMPU MENJELASKAN TENTANG SEJARAH SESUNGGUHNYA." Jadi, jelas mereka tidak mampu memaparkan dengan sesempurna mungkin.

Dalam hal inilah masih melekat sifat sifat fasis dan rasis "Devide et impera" (politik adu-domba) yang ditanamkian oleh Kolonial Hindia Belanda dulu ketika ingin merobah-robah pola pikir pemahaman orang orang Pakkat dalam menyikapi perjuangan Raja Si Singamangaraja X - XII dulu.)***

Poskan Komentar